Kegilaan penduduk Indonesia akan Facebook ternyata bisa mendaftarkan account Facebook tanpa email…

Kemarin, Senin tanggal 14 Oktober 2010. Komunitas blogger yang ada di kota Solo, Komunitas Blogger Bengawan mengadakan diskusi dengan pak Yanuar Nughoho (@yanuarnugroho). Pembicaraannya masih di sekitar social media, perkembangan teknologi, dan pola-pola pengembangan komunitas yang ada di Indonesia. Hadir pada waktu itu komunitas dari kota di luar Solo, antara lain blogger Ngalam dari kota Malang, blogger Warok Ponorogo (Kota Reyog) dari Ponorogo, Pendekar Tidar dari Magelang dan Plat-M dari Madura.

Pembicaraan yang bisa saya sampaikan di sini hanya sebagian. Saya hanya akan mengangkat dimana gadget dan social media, Facebook, bisa membuat orang kehilangan mata pencaharian, gundulnya hutan dan membuka warung pulsa digital — istilah nge-trennya warung 2.0 (dua titik nol). Berikut, cerita yang disampaikan pak Yanuar Nugroho dan beberapa pendapat dan pandangan saya yang ada di akhir-akhir cerita.

pic_0029

(dok) Blogger Ponorogo

Berangkat dari gundulnya hutan dulu. Di sebuah kabupaten yang memiliki hutan jati yang sangat luas, sengaja tidak menyebut nama daerahnya, pak lurah dari daerah itu sampai mengutuk dengan adanya piranti keras berbentuk persegi panjang yang bisa halo-halo bernama HP (handphone). Ya handphone! bukannkah piranti ini sudah sangat lazim untuk dimiliki saat ini. Bahkan orang membawa beberapa HP pun sudah cukup wajar.

Ooohh, ternyata memang ada biang keladinya. Handphone ternyata telah menyebabkan hilangnya tukang becak di wilayah itu. Bukan hilang di telan handphone. Tapi hilang karena sudah tidak ada yang menumpang dan membayar becak. Padahal pada waktu handphone belum gila-gilaan, becak di daerah itu cukup laris. Setiap ada orang yang menunggang bis dan selanjutnya meneruskan perjalanan masuk ke kampung (yang tidak bisa di lewati bis) dengan menunggang becak.

Namun, hal ini juga di sebabkan oleh prestige-nya sebuah handphone. Orang di daerah itu akan merasa terangkat harkat dan martabatnya jika sudah memiliki handphone. Apalagi tren handphone low-end sekarang yang menawarkan berbagai layanan untuk mengakses sosial media. Di samping sebuah handphone ber engine social media, sebuah sepeda motor juga tak kalah pentingnya.

Masyarakat di daerah itu juga mati-matian untuk membeli sebuah sepeda motor, selain kredit yang sangat mudah. Tentunya bisa dicicil sampai laaammmaaa dan uang muka (UM/DP) sangaaaaattt ringan. :D nah pertanyaannya, dari mana masyarakat daerah berpenduduk yang bisa dikatakan pas-pasan itu bisa membeli sebuah motor? Karena hutan jati melimpah ruah di daerah itu, ya sudah, mereka mengeksploitasi hutan jati yang ada di sekitarnya.

Ini merupakan oxymoron dari pepatah “sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit”. Hutan itu, “di tebang tipis-tipis lama-lama jadi habis”. Ya, sekarang hutan itu jadi gundul. Gundulnya karena 2 faktor yang menurut saya itu sesuatu yang sangat tidak “manusiawi”. Mengorbankan satu aset yang sangat besar bukan hanya untuk bertahan hidup atau berkarya. Tapi untuk sebuah motor dan handphone.

Dahulu banyak tukang becak, tapi hutan jatinya terjaga. Sekarang banyak tukang ojek yang lebih suka ber social media di depan layar 2-3 inch tapi hutannya gundul. Mereka juga gemar melototin handphone daripada “srawung sedulur” di balai-balai kampung. Sungguh handphone ini sudah merubah tradisi guyub di wilayah itu yang tergolong warga dusun, kalau keadaannya di kota besar mungkin masih bisa dimaklumi.

Dahulu bisa menunggang becak untuk masuk ke kampung, sekarang cukup tekan beberapa tombol dan minta di jemput. Hidupnya seakan jadi praktis.

Satu lagi hal yang berkaitan dengan hal di atas. Meskipun ini terjadi di lain daerah tapi tetap ada esensi yang sama.

Kegilaan penduduk Indonesia akan Facebook ternyata bisa membuat account Facebook tanpa email! Tidak percaya? Tapi ini memang kenyataan. Orang bisa memiliki Facebook tanpa sepeser emailpun dan mungkin hanya di Indonesia yang bisa. Sesuai motto presidennya juga sih. “Bersama kita bisa!” :p *eh

Mereka membuat account Facebook di tempat-tempat orang jual handphone atau pulsa. Dimana untuk satu account dihargai Rp 50.000. Email sudah dibuatkan oleh penjaga/pemilik toko, jadi jika “pembeli” Facebook tadi lupa password, bayar lagi Rp 5000. Jadi boleh di kategorikan, warung ini adalah warung 2.0 atau kios socmed. :D

Hebat kan negeri kita ini. Berani bayar mahal untuk sebuah layanan yang gratis karena kebodohan yang sebagian orang miliki. Juga masalah hutan tadi. Berani bayar mahal atas kerusakan kelestarian hutan hanya karena masalah pengangkatan harkat dan martabat a.k.a gengsi.

Cukup sudah era social media membuat sebagian rakyat Indonesia menjadi “hebat”. Kegilaan akan kemajuan teknologi yang belum saatnya mereka nikmati. Antipati akan sebuah tradisi asli sudah hadir di sana-sini karena teknologi.

Kemana peran ICT Watch? Sudahkah mereka menjangkau sampai ke daerah seperti ini?


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
Share and Enjoy:
  • Facebook
  • TwitThis
  • Digg
  • del.icio.us
  • Google

Comments



6 Comments so far

  1.    husin on Oktober 16, 2010 08:00

    perlu adanya pencerahan akan sembuah sistem informasi yang merata ke seluruh lapisan masyarakat…

  2.    Erdien | Sundagasik on Oktober 16, 2010 20:55

    Kreatif juga tuh, bisa jadi ladang bisnis juga tuh pembuatan akun FB :D

  3.    Fir'aun NgebLoG on Oktober 17, 2010 19:23

    mantab juga tuch ide matrenya :D hehehe…

  4.    Agus Siswoyo on Oktober 31, 2010 12:08

    kasian anak cucu kita nanti tinggal dapat bencana doang.

  5.    haryoshi on Nopember 2, 2010 15:39

    like this…

    visit me ok…
    fmipa unand

  6.    Mobil Keluarga Ideal Terbaik Indonesia on Nopember 12, 2010 20:35

    matabs…..

Name (wajib)

Email (wajib)

Situs web

Speak your mind