Nop
24
Bermain Gitar, Majalah Musik Dan Google
Nopember 24, 2011 | Tagged band, GIGI, gitar, internet, musik, website | 5 Comments
“Belajar gitar itu, ujung jari kirinya harus mengapal dulu dan pergelangan tangan kananmu harus tahu ritme, Ndre…” — Mas Nano, tetangga sebelah rumah…
Inilah yang dikatakan tetangga waktu berniat meminjam gitarnya untuk belajar memainkan alat musik sejuta umat ini. Saya yang masih itu masih SD kelas 5, mengiyakan saja ucapan mas Nano itu.
Dengan modal gitar pinjaman, senar gitar string Pyramida Gold dan buku panduan bermain gitar bersampul merah serta semangat 45, saya mulai menghafalkan letak ujung jari di tab gitar dan posisi nomer senar serta menggenjreng dengan tangan kanan setelahnya. Jreeenggg…. Nada C keluar dari lubang resonansi. Begitu pula untuk kunci-kunci selanjutnya.
Kakek saya berlangganan harian Suara Merdeka. Setiap edisi hari Sabtu, saya selalu menggunting bagian lirik yang disemati Read more
Jul
2
Google+ Antara Minat dan Enggan
Juli 2, 2011 | Tagged facebook, friendster, google+, social media | Leave a Comment

Hebohnya Google+ di Twitter membuat saya penasaran ingin mencobanya. Kebetulan saya “hidup” di lingkungan yang rata-rata makhluknya memakai email dari Google, Gmail.
Dilihat dari kicauan para pengguna Google+ yang telah lebih dulu mencicipinya, semakin membuat saya penasaran. Ada yang bilang mirip Facebook, ada yang bilang sistem nyentilnya mirip Twitter dan ada juga yang menyampaikan kalo situs jejaring anyar besutan raksasa internet ini gabungan antara Facebook dan Twitter.
Lha saya kemana saja? Maklum, saya baru mendapat invite satu hari setelah heboh-hebohnya. Karena tugas kuliah yang tidak bisa saya sambi karena sistem SKS :D. Kalau nanti keasyikan dengan “mainan baru” pasti keteteran, pikir saya. Tapi tetap memantau timeline Twitter sesekali.
Referensi fitur dan tampilannya pertama kali saya lihat di blog VirtueMagz lewat Read more
Mar
18
linimas(s)a: Tentang Penggunaan Internet Bangsa Ini
Maret 18, 2011 | Tagged linimas(s)a, social media | Leave a Comment
“Coba kamu cari jalan Totosari, Laweyan lewat Google Maps. Kalau ketemu, tolong kasih screenshoot berserta petunjuk jalannya (Jw. ancer-ancer) dan kirim lewat email”, ujar paman saya yang tinggal di Jogja kepada saya yang tinggal di Solo. Kebetulan lokasi yang dicari memang tidak jauh dari rumah saya.
Tidak hanya sekali-dua kali paman saya menyuruh saya untuk memberi petunjuk jalan dengan bantuan internet dan menggunakan Google Maps yang digunakan untuk peta navigasi petunjuk jalan. Dari proses penyampaian informasi, baik menyuruh atau memberikan apa yang disuruhnya juga melalui internet, dari messenger untuk chatting dan email untuk menyampaikan peta serta petunjuk jalan.
Hal ini juga saya temui ketika melihat dokufilm linimas(s)a yang terdapat banyak bagian yang menyoroti penggunaan internet di Indonesia. Bukan hanya paman saya yang berumur lebih dari 40 tahun dan menggunakan internet untuk mendapatkan informasi atau menemukan solusi untuk mengatasi masalahnya. Untuk belajar menggunakan internet secara maksimal mungkin sulit, namun untuk membuka diri dan ada sikap untuk “want to know” tentang penggunaan internet pasti berbeda. Minimal, dia tahu Google Maps dan menyuruh saya untuk menemukan lokasi yang di inginkan.
Ini juga yang dilakukan Blassius Haryadi (Harry van Jogja), tukang becak yang sudah tak lagi muda namun bisa menggunakan Facebook sebagai media untuk berpromosi kepada calon tunggangannya. Berarti, dia masih mau belajar dan mampu membagi waktu di tengah pekerjaan sebagai tukang becak dan membesarkan anak-anaknya. Jika kita melihat orang seumuran dengan pak Harry, mungkin memiliki alasan yang seragam, tidak sempat masih banyak sesuatu yang harus dilakukan (apalagi ibu-ibu rumah tangga
)
Mengenai ibu-ibu yang tidak lagi mempunyai waktu untuk sekedar mengenali dunia internet, di dokufilm linimas(s)a ini juga terdapat nama Valensia Mieke Randa, yang menggunakan teknologi internet, dalam hal ini sosial media untuk sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak. Dia adalah inisiator Blood For Life (#BFL), suatu gerakan yang memberikan segala informasi tentang kebutuhan darah (donor). Informasi disebarkan lewat jejaring sosial, baik via Twitter atau broadcast message BBM. Mungkin hanya sekedar retweet atau BM namun, “…hal-hal kecil yang kita lakukan bisa berarti sebuah nyawa buat orang lain”, kata Valensia.
Banyak hal yang bisa diinisiasi dari penggunaan internet. Termasuk dalam soal hukum dan politik, Koin Prita, Kasus Bibit-Chandra (Gerakan 1 juta Facebooker).
Juga dalam aksi penanganan bencana yang bisa mengakomodir relawan, bantuan, info terkini sampai penggalangan dana dan radio streaming dari post pantau merapi dan bisa didengarkan oleh orang banyak. Penggunaan internet untuk penanganan bencana seperti ini dilakukan oleh Jalin Merapi, yang saat Merapi meletus, akun twitternya @jalinmerapi terus-menerus menyampaikan informasi terkini di sana. Karena terapresiasi oleh kinerja Jalin Merapi dalam menggunakan sosial media, saya menulis tulisan ini beberapa hari setelah Merapi meletus, Letusan Merapi 2.0
Masih banyak hal-hal lain yang terdapat di film ini, terutama percakapan-percakapan cerdas tentang internet di Indonesia. Silakan lihat teaser videonya di http://kalamkata.org/2011/02/20/linimassa-program-film-dokumenter/
Banyak hal yang bisa dilakukan dengan internet, apalagi bangsa ini mempunyai sumber daya pemakai internet yang sangat tinggi. Jika masing-masing bisa mengoptimalkan secara baik. Alangkah dahsyatnya perubahan yang bisa dilakukan bangsa ini!
“Kita melihat bahwa kalau internet ini digunakan dengan benar. Dengan dioptimalkan se positif mungkin. Itu manfaatnya akan sangat luar biasa bahkan untuk melakukan perubahan sosial. Untuk melakukan gerakan-gerakan untuk arah yang lebih baik” — Donny BU, produser dokufilm linimas(s)a dan Ketua ICT Watch.
INSTO MOIST ATASI MATA MERAH
Des
8
Membangun Blog Tekno
Desember 8, 2010 | | 1 Comment
1 bulan ini saya sedang membangun blog ber-genre tekno. Bersama 2 teman blogger, saya berusaha membuat kompilasi tulisan yang ada hubungannya dengan tekno, gadget, web, sosial media dan IT environment.
Yah sesuai konsekuensi, blog personal saya jadi terbengkelai. Tapi saya tetap aktif dalam memonitor halaman blog ini. *dasarnya saya memang ngga punya kerjaan lain*
Hmm, tapi dasarnya saya senang menulis, biarkan saya menulis di “rumah baru” sejenak, sambil menguatkan pondasi.Itung-itung berbagi tentang dunia IT. Dan semoga dapat pahala..hehe.
Ini dia yang membuat sebagian waktu saya tersita,
VirtueMagz.Com, sebuah portal IT berbahasa Indonesia. Tujuannya simple, turut memperbanyak konten lokal yang memberikan berita-berita terkini perkembangan dunia maya.
Blog ini akan di update minggu depan. Stay tune..
Des
2
Internet Indonesia: Lebih Butuh Sikap Daripada Teori
Desember 2, 2010 | Tagged Festival BLOG 2010 | 23 Comments
Internet yang penggunannya menjamur di Indonesia, setidaknya 2 (dua) tahun ini, sudah memberikan dampak yang sangat signifikan dalam berbagai hal. Dari perilaku sosial dalam berteknologi, sudut pandang baru dalam berbisnis (menggunakan internet untuk pemasaran produk), akses informasi sampai transformasi cara berbicara dengan media yang bisa didengarkan oleh khalayak ramai dengan cara cepat dan masive, jurnalisme warga lewat tulisan di blog, komunikasi politik pemerintahan terhadap rakyat, sampai pemanfaatan social media untuk penanggulangan bencana.
Tentunya kita, bangsa Indonesia, semakin hari semakin dewasa dalam ber-internet. Tak mungkin kita terus-terusan diberi teori bagaimana cara berinternet dengan sehat. Di dalam perkembangannya kita malah butuh banyak ruang untuk bersikap. Menyikapi internet adalah ruang informasi yang tidak bisa di definisikan sebagai sehat dan tidak sehat. Itu semua kembali pada cara pandang setiap pengguna internet. Read more

